Followers

17 March 2012

Johann Sebastian Bach



        Johann Sebastian Bach (lahir di Eisenach, Jerman, 21 Maret 1685 – meninggal 28 Juli 1750 pada umur 65 tahun[1]) adalah seorang komponisJerman . Ia menggubah musik untuk alat musik organ, harpsichord dan clavichord, dan juga untuk orkestra. Karyanya yang paling terkenal adalahBrandenburg concerto.
Biografi
Para musikolog membagi seluruh komposisi Bach dalam lima masa, masing-masing komposisi memperlihatkan perbedaan gaya yang cukup spesifik jika saling dibandingkan tahun pembuatannya. Yang membuat gaya lagu Bach berbeda dari yang lain adalah bahwa semua lagu yang dibuatnya baik lagu Jesu Joy of Man's Desiring atau lagu yang kebanyakan dibuatnya ditujukan untuk Tuhan.
Masa Pertama
Johann Sebastian Bach lahir pada tanggal 21 Maret 1685 di kota EisenachJerman. Ayahnya bernama Johann Ambrosius Bach, dia adalah seorang pemain terompet dan dirigen orkes kota tersebut[2]. Johann Sebastian adalah anak bungsu dari delapan bersaudara. Pada saat orangtua Bach meninggal pada tahun 1695 dia pindah ke Ohrdruf dan diasuh oleh kakak laki-lakinya, Johann Christoph Bach. Di Ohrdruf, Bach melanjutkan pendidikannya ke sekolah Lyceum. Bach cukup berprestasi di sekolahnya, dari kakaknya Bach diajarkan bermain organdan kemungkinan juga belajar bermain biola. Bach belajar sendiri ilmu komposisi dengan cara biasa dan lazim pada zaman itu, yaitu menyalin buku musik komposisi-komposisi komponis Barok.
Pada umur 15 tahun, Bach terpaksa keluar dari rumah kakaknya karena jumlah anggota keluarga mereka terus bertambah. Bach melalui perantaraan pemimpin musik sekolahnya menjadi anggota penyanyi koor di gereja Michaliskirche, di kota Luneburg. Bach bertemu dengan komponis penting pada masa itu, George Boehm (1661-1773), Bach kemudian menjadi muridnya dalam bidang komposisi.
Masa Kedua
Pada tahun 1702, pada Bach berangkat dari Luneburg dan mencari pekerjaan sebagai organis. Pekerjaan sebagai organis umumnya diberikan pada kepada pemusik yang menang dalam lomba improvisasi untuk organ. Bach memenangkan lomba tersebut dan mendapat jabatan di kota Sangerhausen, namun pangeran setempat tak setuju dan mengangkat orang yang lebih tua dari Bach. Pada tahun 1703, Bach mendapat tugas sebagai pelayan dalam memainkan musik untuk salah satu pangeran di Weimar, pada masa tersebut Weimar diperintah oleh dua pangeran. Pangeran pertama adalah pimpinan dan yang kedua adalah wakilnya. Pada tahun yang sama, Bach mendapat pekerjaan sebagai pemain organ di gereja kotaArnstadt. Pada masa ini Bach mengalami konflik dengan para anggota koor, dia tak dapat bekerja sama dengan anggota koor sehingga sering terjadi kesulitan dan berselisih paham dalam latihan koor.
Pada tahun 1705, Bach diizinkan cuti dan ia pergi kota Lubeck untuk mendengarkan penampilan Dietrich Buxtehude, Bach mengharapkan agar bisa mengambil posisinya sebagai organis setelah Buxtehude pensiun tapi ternyata Buxtehude meminta Bach menjadi penerus keluarganya dengan menikahi anak tertua dari lima anaknya yang ditolak oleh Bach.
Bach ternyata tinggal selama kurang lebih tiga bulan dan lebih lama dari jangka waktu cuti yang diberikan dewan gereja. Bach ditegur dewan gereja, bukan karena keterlambatannya namun karena iringan-iringan koral untuk kebaktian dirasa terlalu sulit untuk diikuti oleh jemaat.
Pada tahun 1703, ia berhasil memenangkan perlombaan untuk menjadi pemain organ di gereja Santo Blasius, Mulhausen yang terletak sekitar 55 kilometer dar Arnstatdt. Di sini, Bach tertarik dengan Maria Barbara yang ternyata adalah sepupunya, mereka menikah pada tahun yang sama. Pada tahun 1708 Bach menggubah Gott is mein Konig (BWV 71).
Masa Ketiga
Bach dipanggil untuk menjadi pemain organ oleh pangeran Wilhelm Ernst, pangeran kota Weimar, yang sangat terkesan dengan permainan Bach dan mendorongnya untuk membuat lebih banyak komposisi. Bach tinggal di Weimar sampai tahun 1717. Pada tahun 1713, mengetahui Bach melamar suatu jabatan sebagai pemain organ di kota Halle, Pangeran Wilhelm melantik Bach menjadi konzertmeister dan menaikkan gajinya. Namun sebagai konsekuensinya, Bach harus menciptakan sebuah kantata setiap bulannya. Pada tahun 1716 jabatanKapelmeister diganti oleh Georg Phillipe Telemann (1681-1767) yang merupakan komponis paling populer pada masa Bach. Pada tahun 1717 Bach diterima sebagai Kapelmeister olehpangeran Leopold di Cothen dan meminta pengunduran diri kepada Pangeran Wilhelm. Permohonan Bach ditolak namun dia diijinkan ke Dresden untuk berlomba improvisasi dengan seorang pemain harpsikord dari Perancis, Louis Marchand. Pada bulan November, Bach dipecat secara tidak hormat oleh Pangeran Wilhelm.
Masa Keempat
Pangeran Leopold adalah majikan yang ramah dan seorang penganut Calvinisme. Bach tidak harus menciptakan musik gerejawi walau dia menciptakan kantata untuk peristiwa-peristiwa penting. Tugas utama Bach adalah menyediakan musik untuk hiburan pangeran. Pada tahun 1721 Bach menggubah enam konsertonya yang paling terkenal, yakni Brandenburg Concerto (BWV 1046-1051) yang didedikasikan untuk Pangeran Christian Ludwig dari Brandenburg. Komposisinya yang terkenal Toccata dan Fugue (BWV 565) untuk Organ diciptakan pada tahun 1720.
Bach juga menggubah lagu-lagu lain seperti Clavierbuchlein fur Wilhelm Friedmann Bach, dan buku pertama dari Das Wohltemperierte Clavier (BWV 846-869) .
Pada masa ini, istrinya meninggal pada usia 36 tahun dan Bach menikah dengan Anna Magdalena Wilcken pada tahun 1721. Mereka berdua dikaruniai 13 anak; Bach bahkan menciptakan beberapa buku musik khusus untuk istrinya. Dalam buku ini juga terdapat Minuet in G yang sangat terkenal itu. Pada saat yang sama Pengeran Leopold juga menikah dengan istri yang tidak begitu tertarik dengan musik sehingga kepentingan Bach di istana menurun.
Masa Kelima
Pada tahun 1722Kuhnau, ketua musik sekolah St. Thomas di Leipzig meninggal. Bach mendapatkan jabatan tersebut; calon yang selain Bach adalah Telemann dan Graupner, namun Bach berhasil tepilih.
Pada masa ini Bach sangat rajin menggubah kantata-kantata namun juga penuh perselisihan dengan para pejabat Gereja. Bach menganggap mereka tidak mengerti keinginannya untuk memajukan musik gereja. Bach menggubah salah satu passion-nya yang paling terkenal, St. Matthew's Passion (BWV 244). Komposisinya ini mendapat sambutan meriah dari publik. Bach juga menggubah Mass in B minor yang dianggap karya teragung dari kantatanya.
Pada tahun 1742 Count Kaiserling mengirimkan Johann Gottlieb Goldberg agar Bach menggubah suatu komposisi yang lembut agar sang Count bisa tidur. Bach menggubah Goldberg Variations (BWV 988) Komposisi ini dianggap sebagai musik dalam bentuk tema dan variasi yang paling agung dalam repertoar musik keyboard.
Pada akhir hidupnya Bach menderita kebutaan, pada saat ini pula ia menggubah Die Kunst der Fugue 13 (BWV 1080). Suatu komposisi dengan bermacam variasi bentuk dari suatu tema fuga. Bach menulis komposisi ini dengan berbaring di tempat tidur dan mengeja not yang ada di kepalanya kepada istrinya. Bach meninggal dunia pada tahun 28 Juli 1750 dan karya ini tidak sempat diselesaikan.
Anak-anak Bach
Bach memiliki 7 anak dari istri pertama dan 13 anak dari istri kedua. Dari sekian banyak anak Bach beberapa di antaranya ada yang meninggal ketika masih muda. Kira0kira dalam keluarga Bach ada sekurang-kurangnya 52 orang musikus. Nama-nama beberapa anak Bach yang merupakan komponis adalah sebagai berikut.
1.     Wilhelm Friedemann Bach (anak pertama Bach).
2.     Carl Philipp Emanuel Bach (anak kedua Bach yang berhasil hidup sampai dewasa).
3.     Johann Christoph Friedrich Bach (anak termuda kedua Bach).
4.     Johann Christian Bach (anak termuda Bach).

24 February 2012

chili

Step 1

Fill a bucket with water and let the water sit out for 24 hours. This will remove any chlorine that may be in the water that would be harmful to your chilli seeds.

Step 2

Fill a rectangular flower pot with a potting medium. It is best to germinate the seeds indoors and then transplant them outdoors.

Step 3

Place your chilli seeds 1/4 inch deep into the potting medium. Cover them back up with soil. Make sure the seeds are spaced 1/2 inch apart.

Step 4

Pour the water from your bucket into the rectangular flower pot. Only use enough to make the soil moist--not soaked. Then cover the pot with plastic wrap and keep it in a location that is above 75 degrees F. This is the ideal temperature for germination.

Step 5

Keep the soil moist and the plastic over the pot for eight weeks. The seeds will have come up by then and you can then remove the plastic.

Step 6

Choose a location in your garden for planting your germinated chilli seeds. It should be a spot that gets a good amount of sunlight each day.

Step 7

Loosen the soil in your garden and apply a fertilizer. Chilli Farm recommends using a 15-15-15 fertilizer. Then transplant the chilli plants to the garden. Of course, you can continue to grow them indoors and just transplant them to larger pots.

Step 8

Keep your soil moist. Chilli plants need a lot of water. You will also want to make sure you fertilize your chilli plants once a month during the growing season.

Step 9

Stake your chilli plants if they become too top heavy. Keep in mind that the root system of a chilli plant is quite small, which makes it less able to support a larger chilli plant. A simple stake will do the trick.

Tips and Warnings

  • The ground temperature should be 65 degrees F before you transplant the chilli plants from their indoor pots.

Things You'll Need

  • Bucket
  • Water
  • Rectangular pot
  • Potting medium
  • Plastic wrap
  • 15-15-15 fertilizer
  • Stake

02 February 2012

Instructions

Things You'll Need

  • Welding equipment
  • Mini saw
  • Metal pipe
  • Fan blade
  • Wrench or handle
  • Gears
  • Plastic cone
    • 1
      Cut a metal pipe to about 6 inches long using a mini saw and then cut a small circular hole on the bottom of the pipe large enough for the bolt to slip snugly through. Cut several rectangular holes about 1 inch high and 2 inches wide above the circular hole around the pipe equidistant apart until they go all around the pipe. Put the cut rectangles off to the side because you will need them again later in the project.
    • 2
      Place the bolt through the circular hole so that it can turn, but remains securely in place. Attach a gear in a vertical position. Grind the fan blade down until it can fit snugly into the pipe, leaving just enough room for the rectangles to pass through along with the fan.
    • 3
      Attach a bolt to the fan and to the other end attach a gear horizontally. Weld the flat side of the rectangles to the edge of the fan blades and place them into the metal pipe. The rectangles should line up with the rectangular holes cut earlier so that when the fan spins, the rectangles cover the holes completely. The gears should fit together so that when the handle turns, so does the fan.
    • 4
      Glue the plastic cone around the end of the pipe to direct the sound and then test the siren out by turning the crank. The faster you turn the crank, the faster the fan will spin and chop the air flow. Each time the rectangle covers it forces the air out through the cone, creating the sound

Legend white snake
The story is set in the Southern Song Dynasty.

Bai Suzhen (白素貞), a female white snake, dreams of becoming a goddess by doing good deeds. She transforms herself into a woman and travels to the human realm. There, she meets a green snake, Qing (), who causes disaster in the area she lives. Bai holds Qing captive at the bottom of a lake but promises her that she will return 300 years later to free her. Bai keeps her word and develops a sisterly bond with Qing. They encounter Fahai, a sorcerer who believes that every demon is inherently evil and must be destroyed. However, Bai is too powerful and Fahai is unable to eliminate her immediately, so he vows to destroy them if he sees them again.
Fearing that they will meet more human sorcerers, Bai and Qing retreat to the Banbuduo, a realm that exists between the human and demon worlds. They try to perform good deeds by bringing rain to places experiencing drought. However, Qing was careless and almost flooded the whole town once. Due to this mistake, Bai loses her chance to become an immortal. However, Guan Yin informs her that she may have yet another opportunity.
In the meantime, Bai and Qing accidentally bring a scholar named Xu Xian, and his friend, into the demon world. Bai protects them from the other demons and falls in love with Xu in the process. After the battle with the lord of the Underworld, Xu confesses his feelings for Bai, claiming that it was love at first sight. However, for a human to return to his world, he must first become unconscious and have any memory about his experience in the demon realm erased, but Xu knows and avoids being knocked out. However, Fahai finds a way into the demon world and he tricks Xu into being knocked out.
When Xu Xian returns to the human realm he forgets everything. Since he and his friend entered the portal separately, they end up in different locations. Xu meets many new people there. Not long later, Bai takes a final step to becoming a goddess, which is to collect human tears. Bai sees Xu with another woman and assumes that they are a couple. Qing realizes that when Xu and Bai meet, Xu will fall in love with Bai again, so she helps to arrange a meeting for them. Xu and Bai are married, open a medicine shop and live happily together.
However, as humans and demons are forbidden to bond, the town is struck by a plague and ends up on the verge of total destruction. Bai, Qing and Fahai finally agree to a truce and obtain a magical herb needed to help the population. Bai becomes pregnant later with Xu's child, but Fahai continues to attempt to eliminate her and Qing.
On the fifth day of the fifth lunar month, when the Duanwu Festival is held, demons in human form will revert to their original shape. Bai thus decides to take Qing and Xu Xian back to Banbuduo, but Xu falls for Fahai's trick again. Bai's true form is revealed and Xu is literally scared to death. Bai retrieves a drug that restores Xu to life. After giving birth to Xu's son, Bai is unable to control herself anymore and is forced to tell her husband the truth about her origin. Xu kindly accepts her, but Fahai attacks the weakened Bai and imprisons her for eternity in Leifeng Pagoda.
Legend white snake
The story is set in the Southern Song Dynasty.

Bai Suzhen (白素貞), a female white snake, dreams of becoming a goddess by doing good deeds. She transforms herself into a woman and travels to the human realm. There, she meets a green snake, Qing (), who causes disaster in the area she lives. Bai holds Qing captive at the bottom of a lake but promises her that she will return 300 years later to free her. Bai keeps her word and develops a sisterly bond with Qing. They encounter Fahai, a sorcerer who believes that every demon is inherently evil and must be destroyed. However, Bai is too powerful and Fahai is unable to eliminate her immediately, so he vows to destroy them if he sees them again.
Fearing that they will meet more human sorcerers, Bai and Qing retreat to the Banbuduo, a realm that exists between the human and demon worlds. They try to perform good deeds by bringing rain to places experiencing drought. However, Qing was careless and almost flooded the whole town once. Due to this mistake, Bai loses her chance to become an immortal. However, Guan Yin informs her that she may have yet another opportunity.
In the meantime, Bai and Qing accidentally bring a scholar named Xu Xian, and his friend, into the demon world. Bai protects them from the other demons and falls in love with Xu in the process. After the battle with the lord of the Underworld, Xu confesses his feelings for Bai, claiming that it was love at first sight. However, for a human to return to his world, he must first become unconscious and have any memory about his experience in the demon realm erased, but Xu knows and avoids being knocked out. However, Fahai finds a way into the demon world and he tricks Xu into being knocked out.
When Xu Xian returns to the human realm he forgets everything. Since he and his friend entered the portal separately, they end up in different locations. Xu meets many new people there. Not long later, Bai takes a final step to becoming a goddess, which is to collect human tears. Bai sees Xu with another woman and assumes that they are a couple. Qing realizes that when Xu and Bai meet, Xu will fall in love with Bai again, so she helps to arrange a meeting for them. Xu and Bai are married, open a medicine shop and live happily together.
However, as humans and demons are forbidden to bond, the town is struck by a plague and ends up on the verge of total destruction. Bai, Qing and Fahai finally agree to a truce and obtain a magical herb needed to help the population. Bai becomes pregnant later with Xu's child, but Fahai continues to attempt to eliminate her and Qing.
On the fifth day of the fifth lunar month, when the Duanwu Festival is held, demons in human form will revert to their original shape. Bai thus decides to take Qing and Xu Xian back to Banbuduo, but Xu falls for Fahai's trick again. Bai's true form is revealed and Xu is literally scared to death. Bai retrieves a drug that restores Xu to life. After giving birth to Xu's son, Bai is unable to control herself anymore and is forced to tell her husband the truth about her origin. Xu kindly accepts her, but Fahai attacks the weakened Bai and imprisons her for eternity in Leifeng Pagoda.
The Empty Pot
BY royal proclamation, the Emperor of China announced a contest to decide the next heir to the throne. The Emperor was old and had no son, and because he had been a plant-lover for years, he declared that any boy who wanted to be king should come to the palace to receive one royal seed. Whichever boy could show the best results within six months would win the contest and become the next to wear the crown.

                You can imagine the excitement!  Every boy in China fancied himself likely to win. Parents of boys who were talented at growing plants imagined living in splendor at the palace. On the day the seeds were to be handed out, thick crowds of hopeful boys thronged the palace. Each boy returned home with one precious possibility in his palm.

                And so it was with the boy Jun. He was already considered the best gardener in the village. His neighbors fought over the melons, bok choy, and snow peas that flourished from his garden.  Anyone looking for Jun would probably find him bobbing between his rows, pulling out new weeds, moving one sapling over to catch more morning sun, transplanting another to the shade. Jun carefully carried the Emperor's seed home, sealing it securely in his hands so it wouldn't fall, but not so tightly that it might crush.

                At home, he spread the bottom of a flowerpot with large stones, covered the stones with pebbles, then filled the pot with rich black moist soil. He pressed the seed about an inch below the surface and covered it with light soil. Over the next few days Jun, along with every boy he knew and hundreds he did not know, watered his pot every day and watched for the telltale unfurling of the first leaf as it burst through the surface.

                Cheun was the first boy in Jun's vilage to announce that his seed was sprouting through the soil, and his announcement was met with whoops of excitement and congratulations. He bragged that he would surely be the next emperor and practiced his royal skills by bossing around the younger, adoring children. Manchu was the next boy whose tiny plant had emerged from his pot, then it was Wong. Jun was puzzled - none of these boys could grow plants as well as he!  But Jun's seed did not grow.

                Soon sprouts emerged from pots all over the village. Boys moved their plants outside so the baby leaves could bask in the warmth of the sun. They built stone fences around their pots and zealously guarded them from mischievous children who might accidentally - or not so accidentally - topple them over. Soon, dozens of sprouts in pots throughout Jun's village were stretching out their first leaves. But Jun's seed did not grow.

                He was confused - what was wrong? Jun carefully repotted his seed into a new pot with the very best and richest black loam from his garden. He crumbled every ball of soil into tiny particles. He gently pressed in the seed, and kept the top moist and watched the pot every day. Still Jun's seed did not grow.

                Strong, powerful stalks soon emerged from the pots cared for by other boys in Jun's village. Jun was thrown into despair. The other boys laughed at him and started to mockingly say "as empty as Jun's pot" if there were no treats in their pockets, or if they had just finished their bowls of rice. Jun repotted his plant yet again, this time sprinkling dried fish throughout the soil as fertilizer. Even so, his seed did not grow.

                Six month's passed. The day approached when the boys were supposed to bring their plants to the palace for judging. Cheun, Manchu, Wong and hundreds of other boys cleaned their pots till they shone, gently wiped the great leaves till the green veins glistened, and prepared themselves by dressing in their finest clothes. Some mothers or fathers walked alongside their son to hold the plant upright as he carried the pot to the palace, to keep the plant from tipping over.

                "What will I do?" wailed Jun to his parents as he gazed out the window at the other boys joyfully preparing their triumphant return to the palace. "My seed wouldn't grow!  My pot is empty!"

                "You did the best you could," said his father, shaking his head. Added his mother, "Jun, just bring the emperor your pot," said his mother, "it was the best you could do."

                Shame-faced, Jun carried his empty pot on the road to the palace, while gleeful boys carrying pots tottering with huge plants strode to his right and left.

                At the palace, all the boys lined up in rows with their blossoming plants and awaited judgment. The Emperor, wrapped in his richly embroidered silk robe, strode down the line of hopeful entrants, viewing each plant with a frown. When he came to Jun, he scowled even more and said, "What is this? You brought me an empty pot?"

                It was all Jun could do to keep from crying. "If you please, Your Majesty," said Jun, "I tried my best. I planted your seed with the best soil I could find, I kept it moist and watched it every day. When the seed didn't grow I repotted it in new soil, and I even repotted it again. But it just didn't grow. I'm sorry." Jun hung his head.

                "Hmm," said the Emperor. Turning so everyone could hear he thundered, "I don't know where all these other boys got their seeds. There is no way anything could grow from the seeds we passed out for the contest, because those seeds had all been cooked!"

                And he smiled at Jun.



Nama : Moh. Ardani
Kelas : 9B
The Empty Pot
BY royal proclamation, the Emperor of China announced a contest to decide the next heir to the throne. The Emperor was old and had no son, and because he had been a plant-lover for years, he declared that any boy who wanted to be king should come to the palace to receive one royal seed. Whichever boy could show the best results within six months would win the contest and become the next to wear the crown.

                You can imagine the excitement!  Every boy in China fancied himself likely to win. Parents of boys who were talented at growing plants imagined living in splendor at the palace. On the day the seeds were to be handed out, thick crowds of hopeful boys thronged the palace. Each boy returned home with one precious possibility in his palm.

                And so it was with the boy Jun. He was already considered the best gardener in the village. His neighbors fought over the melons, bok choy, and snow peas that flourished from his garden.  Anyone looking for Jun would probably find him bobbing between his rows, pulling out new weeds, moving one sapling over to catch more morning sun, transplanting another to the shade. Jun carefully carried the Emperor's seed home, sealing it securely in his hands so it wouldn't fall, but not so tightly that it might crush.

                At home, he spread the bottom of a flowerpot with large stones, covered the stones with pebbles, then filled the pot with rich black moist soil. He pressed the seed about an inch below the surface and covered it with light soil. Over the next few days Jun, along with every boy he knew and hundreds he did not know, watered his pot every day and watched for the telltale unfurling of the first leaf as it burst through the surface.

                Cheun was the first boy in Jun's vilage to announce that his seed was sprouting through the soil, and his announcement was met with whoops of excitement and congratulations. He bragged that he would surely be the next emperor and practiced his royal skills by bossing around the younger, adoring children. Manchu was the next boy whose tiny plant had emerged from his pot, then it was Wong. Jun was puzzled - none of these boys could grow plants as well as he!  But Jun's seed did not grow.

                Soon sprouts emerged from pots all over the village. Boys moved their plants outside so the baby leaves could bask in the warmth of the sun. They built stone fences around their pots and zealously guarded them from mischievous children who might accidentally - or not so accidentally - topple them over. Soon, dozens of sprouts in pots throughout Jun's village were stretching out their first leaves. But Jun's seed did not grow.

                He was confused - what was wrong? Jun carefully repotted his seed into a new pot with the very best and richest black loam from his garden. He crumbled every ball of soil into tiny particles. He gently pressed in the seed, and kept the top moist and watched the pot every day. Still Jun's seed did not grow.

                Strong, powerful stalks soon emerged from the pots cared for by other boys in Jun's village. Jun was thrown into despair. The other boys laughed at him and started to mockingly say "as empty as Jun's pot" if there were no treats in their pockets, or if they had just finished their bowls of rice. Jun repotted his plant yet again, this time sprinkling dried fish throughout the soil as fertilizer. Even so, his seed did not grow.

                Six month's passed. The day approached when the boys were supposed to bring their plants to the palace for judging. Cheun, Manchu, Wong and hundreds of other boys cleaned their pots till they shone, gently wiped the great leaves till the green veins glistened, and prepared themselves by dressing in their finest clothes. Some mothers or fathers walked alongside their son to hold the plant upright as he carried the pot to the palace, to keep the plant from tipping over.

                "What will I do?" wailed Jun to his parents as he gazed out the window at the other boys joyfully preparing their triumphant return to the palace. "My seed wouldn't grow!  My pot is empty!"

                "You did the best you could," said his father, shaking his head. Added his mother, "Jun, just bring the emperor your pot," said his mother, "it was the best you could do."

                Shame-faced, Jun carried his empty pot on the road to the palace, while gleeful boys carrying pots tottering with huge plants strode to his right and left.

                At the palace, all the boys lined up in rows with their blossoming plants and awaited judgment. The Emperor, wrapped in his richly embroidered silk robe, strode down the line of hopeful entrants, viewing each plant with a frown. When he came to Jun, he scowled even more and said, "What is this? You brought me an empty pot?"

                It was all Jun could do to keep from crying. "If you please, Your Majesty," said Jun, "I tried my best. I planted your seed with the best soil I could find, I kept it moist and watched it every day. When the seed didn't grow I repotted it in new soil, and I even repotted it again. But it just didn't grow. I'm sorry." Jun hung his head.

                "Hmm," said the Emperor. Turning so everyone could hear he thundered, "I don't know where all these other boys got their seeds. There is no way anything could grow from the seeds we passed out for the contest, because those seeds had all been cooked!"

                And he smiled at Jun.



Nama : Moh. Ardani
Kelas : 9B

Instructions

Things You'll Need

  • 2-inch wood dowel
  • Hand saw
  • Four 1-by-1-inch wooden planks
  • Power drill
  • 1/2-inch drill bit
  • 10-lb. free weight
  • Five 1/2-inch-diameter wood dowels, 4-inch-lengths
  • Two 1-inch-diameter pulleys
  • Fishing wire, 5-foot-length
  • Fishing hook
  1. Preparation

    • 1
      Make the vertical base of the crane. Cut a 2-inch wooden dowel to a 3-foot length, using a hand saw. Make the necks of the crane. Cut two 1-by-1-inch wood planks to 2-foot lengths, using a hand saw. Make the supports of the crane. Cut two 1-by-1-inch wood planks to 1.5-foot lengths.
    • 2
      Make the upper vertical base hole. Drill a half-inch hole 1-inch below the top edge of the vertical base, using a power drill and half-inch drill bit. Make the lower vertical base hole. Drill a half-inch hole 12-inches below the top edge of the vertical base.
    • 3
      Make the front pulley holes. Drill half-inch holes through the sides of the necks of the crane, 1-inch below the top edges of the necks. Make the middle base holes. Drill half-inch holes through the sides of the necks of the crane, 12-inches from the top and bottom edges of the necks. Make the back pulley holes. Drill half-inch holes through the sides of the necks of the crane, 5-inches above the bottom edges of the necks. Make the back neck holes. Drill half-inch holes through the sides of the necks of the crane, 1-inch above the bottom edges of the necks.
    • 4
      Make the front support holes. Drill half-inch holes through the sides of the supports of the crane. Position the half-inch holes 4-inches below the top edges of the supports. Make the back support holes. Drill half-inch holes through the sides of the supports of the crane. Position the half-inch holes 1-inch above the bottom edges of the supports.

    Assembly

    • 1
      Insert the bottom of the vertical base into the hole in a 10-lb. free weight. The free weight supports the weight of the crane. Sandwich the vertical base with the necks of the crane. Line the upper vertical base hole with the middle base holes. Insert a half-inch diameter dowel with a 4-inch length. The dowel connects the pieces together.
    • 2
      Insert a 1-inch-diameter pulley between the necks of the crane. Line the holes in the pulley with the back pulley holes. Insert a half-inch-diameter dowel with a 4-inch length. Insert a 1-inch-diameter pulley between the necks of the crane. Line the holes in the pulley with the front pulley holes. Insert a half-inch-diameter dowel with a 4-inch length.
    • 3
      Sandwich the vertical base with the supports of the crane. Line the lower vertical base hole with the front support holes. Insert a half-inch-diameter dowel with a 4-inch length. Sandwich the necks with the supports. Line the back neck holes with the back support holes. Insert a half-inch-diameter dowel with a 4-inch length.
    • 4
      Tape the end of a fishing wire with a 5-foot-length and wind the fishing wire around the back pulley. Insert the opposite end of the fishing wire over the front pulley. Tie a fishing hook to the front end of the front pulley. Turn the back pulley forward and backward to lower and raise the front end of the wire and hook

26 January 2012

Pertemuan Jodoh

Pertemuan pertama antara Ratna murid Flobelkweekschool (SGTK) dengan Suparta pelajar Stovia (Sekolah Dokter Menengah) didalam kereta api ekspress ke Bandung, kemudian mereka saling mengikat batin masing-masing dengan perantara surat menyurat.
Waktu Ratna dengan Resmi melawat ke rumah Suparta sekota (Sumedang) ternyata ibu Suparta, Nyai R. Tejo Ningrum, masih kolot dan benar dan masih memegang teguh adapt kebangsawannya. Maka tak suka bila puteranya kawin dengan ratna orang kebanyakan.
Disanalah Ratna dicela karena adatnya terlalu maju menurut jaman yang tidak disukai. Tetapi sebaliknya ratna tidak mengikuti adapt timur yang masih kolot, jauh ketinggalan.
Setelahh ia memutuskan pengiriman-pengiriman suratnya, meskipun cintanya sudah berakar dalam hati masing-masing. Hal itu bermaksud agar suparta selalu mengekor adapt ibunya yang tidak disukai ratna.
Keadaan ayah ratna di Tagogapu, amat menyedihkan hati. Kekayaan atmaja disita oleh seorang Arab Syeck Qadir, karena tak bisa membayar hutangnya, karena penjualan kapur waktu itu amat merosot.
Hamper Syech, Qadir dibunuh oleh atmaja karean kata-katanya bahwa hutangnya boleh tidak dibayar asal anaknya yang masih gadis, ratna, diserahkan untuk dijadikan tambahan selirnya. Keluarga atmaja lalu pindah kesebuah pondok kecil disebelahnya yang kecil lagi buruk hingga terasing dari masyarakat ramai.
R Suparta pernah melawat ke situ mencari ranta yang sudah lama tidak ada beritanya. Tetapi oleh ayahnya dikatakan bahwa ratna di Bandung menjadi pelayan took, karena ia amat kasihan kepada adiknya, Sudarmo, jika diputuskan pelajarannya seperti ia sendiri dahulu.
Segera Suparta pergi ke bandung, tetapi tidak berhasil mencarinya karena ratna telah berangkat ke betawi sebab majikannya bangkrut, Sudarmo berhenti sekolahnya dan bekerja pada pegadaian di Purwakarta.
Setelah beberapa hari ratna di Betawi tidak mendapat pekerjaan akhirnya ia menjadi babu dirumah Nyonya Karnel, pengsiun bangsa Belanda, karena ia berpendapat bahwa semua pekerjaan tak akan mendapat kehinaan asal diri sendiri tidak merasa hina.
Di situ ia dituduh mencuri perhiasan majikannya dengan bukti sebentuk cincin yang ada di bawah kasurnya yang diletakan oleh kawannya secara diam-diam. Didalam tahanan, hanya liang kubur yang terlihat olehnya.
Ketika ia dibawa ke polisi akan diadili, ia dapat meloloskan diri terjun ke sungai ciliwung, karena tak kuat menahan malu atas buatan orang lain.
Dalam keadaan payah ia dibawa ke CBZ untuk dirawat dan kebetulan sekali yang merawat dokter Suparta, kekasihnya yang telah lama menanti-nanti kedatangannya.
Dari ahsil pemeriksaan, ternyata ratna dibebaskan dari hukuman, karena memang tak bersalah. Badan yang masih sangat lemah itu dirawat oleh dokter Siparta dirumah pemeliharaan orang sakit urat saraf “bidara Cina”.
Setelah sembuh, atas permintaan dokter Suparta, dilangsungkan perkawinannya dengan meriah dan bahagia.
Tidak disangka-sangka sama sekali bahwa rumah baru yang didirikan disebelah rumah ayahnya di Tagopapu ialah milik dokter Suparta untuk istrinya Ratna.

25 January 2012

Belenggu

Sinopsis Belenggu :
Dokter Sukartono dengan seorang perempuan berparas ayu, pintar, serta lincah. Perempuan itu bernama Sumartini atau panggilannya Tini. Sebenarnya Dokter Sukartono atau Tono tidak mencintai Sumartini. Demikian pula sebaliknya, Tini juga tidak mencintai Dokter Sukartono.
Mereka berdua menikah dengan alasan masing-masing. Dokter Sukartono menikahi Sumartini karena kecantian, kecerdasan, serta mendampinginya sebagai seorang dokter adalah Sumartini. Sedangkan Sumartini menikahi Dokter Sukartono karena hendak melupakan masa silamnya. Menurutnya dengan menikahi seorang dokter, maka besar kemungkinan bagi dirinya untuk melupakan masa lalunya yang kelam. Jadi, keduanya tidak saling mencintai.
Karena keduanya tidak saling mencintai, mereka tidak pernah akur. Mereka tidak saling berbicara dan saling bertukar pikiran. Masalah yang mereka hadapi tidak pernah dipecahkan bersama-sama sebagaimana layaknya suami istri. Masing-masing memecahkan masalahnya sendiri-sendiri. Itulah sebabnya keluarga mereka tampak hambar dan tidak harmonis. Mereka sering salah paham dan suka bertengakar.
Ketidakharmonisan keluarga mereka semakin menjadi karena Dokter Sukartono sangat mencintai dan bertanggung jawab penuh terhadap pekerjaannya. Dia bekerja tanpa kenal waktu. Jam berapa saja ada pasien yang membutuhkannya, dia dengan sigap berusaha membantunya. Akibatnya, dia melupakan kehidupan rumah tangganya sendiri. Dai sering meninggalkannya istrinya sendirian dirumah. Ida betul-betul tidak mempunyai waktu lagi bagi istrinya, Tini.
Dokter Sukartono sangat dicintai oleh pasiennya. Dia tidak hanya suka menolong kapan pun pasien yang membutuhkan pertolongan, tetapi ia juga ridak meminta bayaran kepada pasien yang tak mampu. Itulah sebabnya, dia dikenal sebagi dokter yang sangat dermawan.
Kesibukan Dokter Sukartono yang tak kenal waktu tersebut semakin memicu percekcokan dalam rumah tangga. Menurut Suamrtini, Dokter Sukartono sangat egois. Sumartini merasa telah disepelekan dan merasa bosan karena selalu ditinggalkan suaminya yang selalu sibuk menolong pasien-pasiennya. Dia merasa dirinya telah dilupakan dan merasa bahwa derajatnya sebagai seorang perempuan telah diinjak-injak sebagai seorang istri. Karena suaminya tidak mampu memenuhi hak sebagai seorang istri. Karena suaminya tidak mampu memenuhi hak tersebut, maka Sumartini sering bertengkat. Hampir setiap hari mereka bertengkat. Masing-masing tidak mau mengalah dan merasa paling benar.
Suatu hari Dokter Sukartono mendapat panggilan dari seorang wanita yang mengaku dirinya sedang sakit keras. Wanita itu meminta Dokter Sukartono datang kehotel tempat dia menginap. Dokter Sukartono pun datang ke hotel tersebut. Setibanya dihotel, dia merasa terkejut sebab pasien yang memanggilnya adalah Yah atau Rohayah, wanita yang telah dikenalnya sejak kecil. Sewaktu masih bersekolah di Sekolah Rakyat, Yah adalah teman sekelasnya.
Pada saat itu Yah sudah menjadi janda. Dia korban kawin paksa. Karena tidak tahan hidup dengan suami pilihan orang tuanya, dia melarikan diri ke Jakarta dia terjun kedunia nista dan menjadi wanita panggilan. Yah sebenarnya secara diam-diam sudah lama mencintai Dokter Sukartono. Dia sering menghayalkan Dokter Suartono sebagai suaminya. Itulah sebabnya, dia mencari alamat Dokter Sukartono. Setelah menemukannya, dia menghubungi Dokter Sukartono dengan berpura-pura sakit.
Karena sangat merindukan Dokter Sukartono, pada saat itu juga, Yah menggodanya. Dia sangat mahr dalam hal merayu laki-laki karena pekerjaan itulah yang dilakukannya selama di Jakarta. Pada awalanya Dokter Sukartono tidak tergoda akan rayuannya, namun karena Yah sering meminta dia untuk mengobatinya, lama kelamaan Dokter Sukartono mulai tergoda akan rayuannya, namun karena Yah sering meminta dia untuk mengobatinya, lama-kelamaan Dokter Sukartono mulai tergoda. Yah dapat memberikan banyak kasih sayang yang sangat dibutuhkan oleh Dokter Sukartono yang selama ini tidak diperoleh dari istrinya.
Karena Dokter Sukartono tidak pernah merasakan ketentraman dan selalu bertengkar dengan istrinya, dia sering mengunjungi Yah. Dia mulai merasakan hotel tempat Yah menginap sebagai rumahnya yang kedua.
Lama-kelamaan hubungan Yah dengan Tono diketahui oleh Sumartini. Betapa panas hatinya ketika mengethui hubungan gelap suaminya dengan wanita bernama Yah. Dia ingin melabrak wanita tersebut. Secara diam-diam Sumartini pergi kehotel tempat Yah menginap. Dia berniat hendak memaki Yah sebab telah mengambil dan dan menggangu suaminya. Akan tetapi, setelah bertatap muka dengan Yah, perasaan dendamnya menjadi luluh. Kebencian dan nafsu amarahnya tiba-tiba lenyap. Yah yang sebelumnya dianggap sebagai wanita jalang, ternyata merupakan seorang wanita yang lembut dan ramah. Tini merasa malu pada Yah. Dia merasa bahwa selama ini dia bersalah pada suaminya. Dia tidak dapat berlaku seperti Yah yang sangat didambakan oleh suaminya.
Sepulang dari pertemuan dengan Yah, Tini mulai berintropeksi terhadap dirinya. Dia merasa malu dan bersalah kepada suaminya. Dia merasa dirinya belum pernah memberi kasih sayang yang tulus pada suaminya. Selama ini dia selalu kasar pada suaminya. Dia merasa telah gagal menjadi Istri. Akhirnya, dia mutuskan untuk berpisah dengan Suaminya.
Permintaan tersebut dengan berat hati dipenuhi oleh Dokter Sukartono. Bagaimanapun, dia tidak mengharapkan terjadinya perceraian. Dokter Sukartono meminta maaf pada istrinya dan berjanji untuk mengubah sikapnya. Namun, keputusan istrinya sudah bulat. Dokter Sukartono tak mampu menahannya. Akhirnya mereka bercerai.
Betapa sedih hati Dokter Sukartono akibat perceraian tersebut. Hatinya bertambah sedih saat Yah juga pergi. Yah hanya meninggalkan sepucuk surat yang mengabarkan jika dia mencintai Dokter Sukartono. Dia akan meninggalkan tanah air selama-lamanya dan pergi ke Calidonia.
Dokter Sukartono merasa sedih dalam kesendiriannya. Sumartini telah pergi ke Surabaya. Dia mengabdi pada sebuah panti asuhan yatim piatu, sedangkan Yah pergi ke negeri Calidonia.
Dampak Pengaruh Roman Belenggu
Terhadap Masyarakat Di Tinjau Secara Psikologis
Tokoh-tokoh Roman Belenggu dan Karakter tokoh
1. Dokter Sukartono (Tono) ; seorang dokter yang mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi. Dia terkenal dokter yang dermawan dan penolong. Dia termasuk seorang yang sangat mencintai pekerjaannya.
2. Sumartini (Tini) ; perempuan modern yang mempunyai masa lalu yang kelam karena bebas bergaul. Dia selalu merana kesepian karena kesibukan suaminya yang tak kenal waktu dalam mengobati orang sakit sehingga melupakan dan membiarkannya dirumah seorang diri.
3. Siti Rohayah (Yah) ; perempuan yang harus menjalankan kawin paksa. Dia merasa frustasi, sehingga terjerumus kelembah kemistaan. Dia teman dokter sukarno yang secara diam-diam mencintainya.

24 January 2012

Sengsara membawa nikmat

Seorang Kepala Desa yang dikuti, selalu bertingkah angkuh dan sombong. Dia suka ingin menang sendiri. Kacak paling tidak senang melihat orang bahagia atau yang melebihi dirinya. Kacak kurang disukai orang-orang kampungnya karena sifatnya yang demikian. Beda dengan Midun, walaupun anak orang miskin, namun sangat disukai oleh orang-orang kampungnya. Sebab Midun mempunyai perangai yang baik, sopan, taat agama, ramah serta pintar silat. Midun tidak sombong seperti Kacak.
Karena Midun banyak disukai orang, maka Kacak begitu iri dan dengki pada Midun. Kacak sangat benci pada Midun. Sering dia mencari kesempatan untuk bisa mencelakakan Midun, namun tidak pernah berhasil. Dia sering mencari gara-gara agar Midun marah padanya, namun Midun tak pernah mau menanggapinya. Midun selalu menghindar ketika diajak Kacak untuk berkelahi. Midun bukan takut kalah dalam berkelahi dengan Kacak, karena dia tidak senang berkelahi saja. Ilmu silat yang dia miliki dari hasil belajarnya pada Haji Abbas bukan untuk dipergunakan berkelahi dan mencari musuh tapi untuk membela diri dan mencari teman.
Suatu hari istri Kacak terjatuh dalam sungai. Dia hampir lenyap dibawa arus. Untung waktu itu Midun sedang berada dekat tempat kejadian itu. Midun dengan sigap menolong istri Kacak itu. Istri Kacak selamat berkat pertolongan Midun. Kacak malah balik menuduh Midun bahwa Midun hendak memperkosa istrinya. Air susu dibalas dengan air tuba. Begitulah Kacak berterima kasih pada Midun. Waktu itu Midun menanggapi tantangan itu. Dalam perkelahian itu Midun yang menang. Karena kalah, Kacak menjadi semakin marah pada Midun. Kacak melaporkan semuanya pada Tuanku Laras. Kacak memfitnah Midun waktu itu, rupanya Tuanku Laras percaya dengan tuduhan Kacak itu. Midun mendapat hukuman dari Tuanku Laras.
Midun diganjar hukuman oleh Tuanku Laras, yaitu harus bekerja di rumah Tuanku Laras tanpa mendapat gaji. Sedangkan orang yang ditugaskan oleh Tuanku Laras untuk mengwasi Midun selama menjalani hukuman itu adalah Kacak. Mendapat tugas itu, Kacak demikian bahagia. Kacak memanfaatkan untuk menyiksa Midun. Hampir tiap hari Midun diperlakukan secara kasar. Pukulan dan tendangan Kacak hampir tiap hari menghantam Midun. Juga segala macam kata-kata hinaan dari Kacak tiap hari mampir di telinga Midun. Namun semua perlakuan itu Midun terima dengan penuh kepasrahan.
Walaupun Midun telah mendapat hukuman dari Mamaknya itu, namun Kacak rupanya belum puas juga. Dia belum puas sebab Midun masih dengan bebas berkeliaran di kampung utu. Dia tidak rela dan ikhlas kalau Midun masih berada di kampung itu. Kalau Midun masih berada di kampung mereka, itu berarti masih menjadi semacam penghalang utama bagi Kacak untuk bisa berbuat seenaknya di kampung itu. Untuk itulah dia hendak melenyapkan Midun dari kampung mereka untuk selama-lamanya.
Untuk melaksanakan niatnya itu, Kacak membayar beberapa orang pembunuh bayaran untuk melenyapkan Midun. Usaha untuk melenyapkan Midun itu mereka laksanakan ketika di kampung itu diadakan suatu perlombaan kuda. Sewaktu Midun dan Maun sedang membeli makanan di warung kopi di pinggir gelanggang pacuan kuda itu, orang-orang sewaan Kacak itu menyerang Midun dengan sebelah Midun pisau.
Tapi untung Midun berhasil mengelaknya. Namun perkelahian antar mereka tidak bisa dihindari. Maka terjadilah keributan di dalam acar pacuan kuda itu. Perkelahian itu berhenti ketika polisi datang. Midun dan Maun langsung ditangkap dan dibawa ke kantor polisi.
Setelah diperiksa, Maun dibebaskan. Sedangkan Midun dinyatakan bersalah dan wajib mendekam dalam penjara. Mendengar kabar itu, waduuh betapa senangnya hati Kacak. Dengan Midun masuk penjara, maka dia bisa dengan bebas berbuat di kampung itu tanpa ada orang yang berani menjadi penghalangnya.
Selama di penjara itu, Midun mengalami berbagai siksaan. Dia di siksa oleh Para sipir penjara ataupun oleh Para tahanan yang ada dalam penjara itu. Para tahanan itu baru tidak berani mengganggu Midun ketika Midun suatu hari ber¬hasil mengalahkan si jago Para tahanan.
Karena yang paling dianggap jago oleh Para tahanan itu kalah, mereka kemudian pada takut dengan Midun. Midun sejak itu sangat dihormati oleh para tahanan lainnya. Midun menjadi sahabat mereka.
Suatu hari, ketika Midun sedang bertugas menyapu jalan, Midun Melihat seorang wanita cantik sedang duduk duduk melamun di bawah pohon kenari. Ketika gadis itu pergi, ternyata kalung yang dikenakan gadis itu tertinggal di bawah pohon itu. Kalung itu kemudian dikembalikan oleh Midun ke rumah si gadis. Betapa senang hati gadis itu. Gadis itu sampai jatuh hati sama Midun. Midun juga temyata jatuh hati juga sama si gadis. Nama gadis itu adalah Halimah.
Setelah pertemuan itu, mereka berdua saling bertemu dekat jalan dulu itu. Mereka saling cerita pengalaman hidup, Halimah bercerita bahwa dia tinggal dengan seorang ayah tiri. Dia merasa tidak bebas tinggal dengan ayah tirinya. Dia hendak pergi dari rumah. Dia sangat mengharapkan suatu saat dia bisa tinggal dengan ayahnya yang waktu itu tinggal di Bogor.
Keluar dari penjara, Midun membawa lari Halimah dari rumah ayah tirinya itu. Usaha Midun itu dibantu oleh Pak Karto seorang sipir penjara yang baik hati. Midun membawa Halimah ke Bogor ke rumah orang tua Halimah.
Ayah Halimah orangnya baik. Dia sangat senang kalau Midun bersedia tinggal bersama mereka. Kurang lebih dua bulan Midun bersama ayah Halimah. Midun merasa tidak enak selama tinggal dengan keluarga Halimah itu hanya tinggal makan minum saja. Dia mulai hendak mencari penghasilan. Dia kemudian pergi ke Jakarta mencari kerja. Dalam Perjalanan ke Jakarta. Midun berkenalan dengan saudagar kaya keturunan arab. Nama saudagar ini sebenarnya seorang rentenir. Dengan tanpa pikiran yang jelek-jelek, Midun mau menerima uang pinjaman Syehk itu.
Sesuai dengan saran Syehk itu, Midun membuka usaha dagang di Jakarta. Usaha Midun makin lama makin besar.
Usahanya maju pesat. Melihat kemajuan usaha dagang yang dijalani Midun, rupanya membuat Syehk Abdullah Al-Hadramut iri hati. Dia menagih hutangnya Midun dengan jumlah yang jauh sekali dari jumlah pinjaman Midun. Tentu saja Midun tidak bersedia membayarnya dengan jumlah yang berlipat lipat itu. Setelah gagal mendesak Midun dengan cara demikian, rupanya Syehk menagih dengan cara lain. Dia bersedia uangnya tidak di¬bayar atau dianggap lunas, asal Midun bersedia menyerahkan Halimah untuk dia jadikan sebagai istrinya. Jelas tawaran itu membuat Midun marah besar pada Syehk . Halimah juga sangat marah pada Syehk.
Karena gagal lagi akhirnya Syehk mengajukan Midun ke meja hijau. Midun diadili dengan tuntutan hutang. Dalam persidangan itu Midun dinyatakan bersalah oleh pihak pengadilan. Midun masuk penjara lagi.
Di hari Midun bebas itu, Midun jalan jalan dulu ke Pasar Baru. Sampai di pasar itu, tiba tiba Midun melihat suatu keributan. Ada seorang pribumi sedang mengamuk menyerang seorang Sinyo Belanda. Tanpa pikir panjang Midun yang suka menolong_orang itu, langsung menyelamatkan Si Sinyo Belanda.itu. Sinyo Belanda itu sangat berterima kasih pada Midun yang telah menyelamatkan nyawanya itu.
Oleh Sinyo Belanda itu, Midun kemudian diperkenalkan kepada orang tua Sinyo itu. Orang tua Sinyo Belanda itu ternyata seorang Kepala Komisaris, yang dikenal sebagai Tuan Hoofdcommissaris. Sebagai ucapan terima kasihnya pada Midun yang telah menyelamatkan anaknya itu, Midun langsung diberinya pekerjaan. Pekerjaan Midun sebagai seorang juru Tulis.
Setelah mendapat pekerjaan itu, Midun pun melamar Halimah. Dan mereka pun menikah di Bogor di rumah orang tua Halimah.
Prestasi kerja Midun begitu baik di mata pimpinannya. Midun kemudian diangkat menjadi Kepala Mantri Polisi di Tanjung Priok. Dia langsung ditu¬gaskan menumpas para penyeludup di Medan. Selama di Medan itu, Midun, bertemu dengan adiknya, yaitu Manjau. Manjau bercerita banyak tentang kampung halamannya. Midun begitu sedih rnendengar kabar keluarganya di kampung yang hidup menderita. Oleh karena itu ketika dia pulang ke Jakarta, Midun langsung minta ditugaskan di Kampung halamannya. Permintaan Midun itu dipenuhi oleh pimpinannya.
Kepulangan Midun ke kampung halamannya itu membuat Kacak sangat gelisah. Kacak waktu itu sudah menjadi penghulu di kampung rnereka. Kacak menjadi gelisah sebab dia takut perbuatannya yang telah menggelap¬kan kas negara itu akan terbongkar. Dan dia yakin Midun akan berhasil rnembongkar perbuatan jeleknya itu. Tidak, lama kemudian, memang Kacak ditangkap. Dia terbukti telah menggelapkan uang kas negara yang ada di desa mereka. Akibatnya Kacak masuk penjara atas perbuatannva itu.
Sedangkan Midun hidup berbahagia bersama istri dan seluruh keluarga¬nya di kampung.

sengsara membawa nikmat

eorang Kepala Desa yang dikuti, selalu bertingkah angkuh dan sombong. Dia suka ingin menang sendiri. Kacak paling tidak senang melihat orang bahagia atau yang melebihi dirinya. Kacak kurang disukai orang-orang kampungnya karena sifatnya yang demikian. Beda dengan Midun, walaupun anak orang miskin, namun sangat disukai oleh orang-orang kampungnya. Sebab Midun mempunyai perangai yang baik, sopan, taat agama, ramah serta pintar silat. Midun tidak sombong seperti Kacak.
Karena Midun banyak disukai orang, maka Kacak begitu iri dan dengki pada Midun. Kacak sangat benci pada Midun. Sering dia mencari kesempatan untuk bisa mencelakakan Midun, namun tidak pernah berhasil. Dia sering mencari gara-gara agar Midun marah padanya, namun Midun tak pernah mau menanggapinya. Midun selalu menghindar ketika diajak Kacak untuk berkelahi. Midun bukan takut kalah dalam berkelahi dengan Kacak, karena dia tidak senang berkelahi saja. Ilmu silat yang dia miliki dari hasil belajarnya pada Haji Abbas bukan untuk dipergunakan berkelahi dan mencari musuh tapi untuk membela diri dan mencari teman.
Suatu hari istri Kacak terjatuh dalam sungai. Dia hampir lenyap dibawa arus. Untung waktu itu Midun sedang berada dekat tempat kejadian itu. Midun dengan sigap menolong istri Kacak itu. Istri Kacak selamat berkat pertolongan Midun. Kacak malah balik menuduh Midun bahwa Midun hendak memperkosa istrinya. Air susu dibalas dengan air tuba. Begitulah Kacak berterima kasih pada Midun. Waktu itu Midun menanggapi tantangan itu. Dalam perkelahian itu Midun yang menang. Karena kalah, Kacak menjadi semakin marah pada Midun. Kacak melaporkan semuanya pada Tuanku Laras. Kacak memfitnah Midun waktu itu, rupanya Tuanku Laras percaya dengan tuduhan Kacak itu. Midun mendapat hukuman dari Tuanku Laras.
Midun diganjar hukuman oleh Tuanku Laras, yaitu harus bekerja di rumah Tuanku Laras tanpa mendapat gaji. Sedangkan orang yang ditugaskan oleh Tuanku Laras untuk mengwasi Midun selama menjalani hukuman itu adalah Kacak. Mendapat tugas itu, Kacak demikian bahagia. Kacak memanfaatkan untuk menyiksa Midun. Hampir tiap hari Midun diperlakukan secara kasar. Pukulan dan tendangan Kacak hampir tiap hari menghantam Midun. Juga segala macam kata-kata hinaan dari Kacak tiap hari mampir di telinga Midun. Namun semua perlakuan itu Midun terima dengan penuh kepasrahan.
Walaupun Midun telah mendapat hukuman dari Mamaknya itu, namun Kacak rupanya belum puas juga. Dia belum puas sebab Midun masih dengan bebas berkeliaran di kampung utu. Dia tidak rela dan ikhlas kalau Midun masih berada di kampung itu. Kalau Midun masih berada di kampung mereka, itu berarti masih menjadi semacam penghalang utama bagi Kacak untuk bisa berbuat seenaknya di kampung itu. Untuk itulah dia hendak melenyapkan Midun dari kampung mereka untuk selama-lamanya.
Untuk melaksanakan niatnya itu, Kacak membayar beberapa orang pembunuh bayaran untuk melenyapkan Midun. Usaha untuk melenyapkan Midun itu mereka laksanakan ketika di kampung itu diadakan suatu perlombaan kuda. Sewaktu Midun dan Maun sedang membeli makanan di warung kopi di pinggir gelanggang pacuan kuda itu, orang-orang sewaan Kacak itu menyerang Midun dengan sebelah Midun pisau.
Tapi untung Midun berhasil mengelaknya. Namun perkelahian antar mereka tidak bisa dihindari. Maka terjadilah keributan di dalam acar pacuan kuda itu. Perkelahian itu berhenti ketika polisi datang. Midun dan Maun langsung ditangkap dan dibawa ke kantor polisi.
Setelah diperiksa, Maun dibebaskan. Sedangkan Midun dinyatakan bersalah dan wajib mendekam dalam penjara. Mendengar kabar itu, waduuh betapa senangnya hati Kacak. Dengan Midun masuk penjara, maka dia bisa dengan bebas berbuat di kampung itu tanpa ada orang yang berani menjadi penghalangnya.
Selama di penjara itu, Midun mengalami berbagai siksaan. Dia di siksa oleh Para sipir penjara ataupun oleh Para tahanan yang ada dalam penjara itu. Para tahanan itu baru tidak berani mengganggu Midun ketika Midun suatu hari ber¬hasil mengalahkan si jago Para tahanan.
Karena yang paling dianggap jago oleh Para tahanan itu kalah, mereka kemudian pada takut dengan Midun. Midun sejak itu sangat dihormati oleh para tahanan lainnya. Midun menjadi sahabat mereka.
Suatu hari, ketika Midun sedang bertugas menyapu jalan, Midun Melihat seorang wanita cantik sedang duduk duduk melamun di bawah pohon kenari. Ketika gadis itu pergi, ternyata kalung yang dikenakan gadis itu tertinggal di bawah pohon itu. Kalung itu kemudian dikembalikan oleh Midun ke rumah si gadis. Betapa senang hati gadis itu. Gadis itu sampai jatuh hati sama Midun. Midun juga temyata jatuh hati juga sama si gadis. Nama gadis itu adalah Halimah.
Setelah pertemuan itu, mereka berdua saling bertemu dekat jalan dulu itu. Mereka saling cerita pengalaman hidup, Halimah bercerita bahwa dia tinggal dengan seorang ayah tiri. Dia merasa tidak bebas tinggal dengan ayah tirinya. Dia hendak pergi dari rumah. Dia sangat mengharapkan suatu saat dia bisa tinggal dengan ayahnya yang waktu itu tinggal di Bogor.
Keluar dari penjara, Midun membawa lari Halimah dari rumah ayah tirinya itu. Usaha Midun itu dibantu oleh Pak Karto seorang sipir penjara yang baik hati. Midun membawa Halimah ke Bogor ke rumah orang tua Halimah.
Ayah Halimah orangnya baik. Dia sangat senang kalau Midun bersedia tinggal bersama mereka. Kurang lebih dua bulan Midun bersama ayah Halimah. Midun merasa tidak enak selama tinggal dengan keluarga Halimah itu hanya tinggal makan minum saja. Dia mulai hendak mencari penghasilan. Dia kemudian pergi ke Jakarta mencari kerja. Dalam Perjalanan ke Jakarta. Midun berkenalan dengan saudagar kaya keturunan arab. Nama saudagar ini sebenarnya seorang rentenir. Dengan tanpa pikiran yang jelek-jelek, Midun mau menerima uang pinjaman Syehk itu.
Sesuai dengan saran Syehk itu, Midun membuka usaha dagang di Jakarta. Usaha Midun makin lama makin besar.
Usahanya maju pesat. Melihat kemajuan usaha dagang yang dijalani Midun, rupanya membuat Syehk Abdullah Al-Hadramut iri hati. Dia menagih hutangnya Midun dengan jumlah yang jauh sekali dari jumlah pinjaman Midun. Tentu saja Midun tidak bersedia membayarnya dengan jumlah yang berlipat lipat itu. Setelah gagal mendesak Midun dengan cara demikian, rupanya Syehk menagih dengan cara lain. Dia bersedia uangnya tidak di¬bayar atau dianggap lunas, asal Midun bersedia menyerahkan Halimah untuk dia jadikan sebagai istrinya. Jelas tawaran itu membuat Midun marah besar pada Syehk . Halimah juga sangat marah pada Syehk.
Karena gagal lagi akhirnya Syehk mengajukan Midun ke meja hijau. Midun diadili dengan tuntutan hutang. Dalam persidangan itu Midun dinyatakan bersalah oleh pihak pengadilan. Midun masuk penjara lagi.
Di hari Midun bebas itu, Midun jalan jalan dulu ke Pasar Baru. Sampai di pasar itu, tiba tiba Midun melihat suatu keributan. Ada seorang pribumi sedang mengamuk menyerang seorang Sinyo Belanda. Tanpa pikir panjang Midun yang suka menolong_orang itu, langsung menyelamatkan Si Sinyo Belanda.itu. Sinyo Belanda itu sangat berterima kasih pada Midun yang telah menyelamatkan nyawanya itu.
Oleh Sinyo Belanda itu, Midun kemudian diperkenalkan kepada orang tua Sinyo itu. Orang tua Sinyo Belanda itu ternyata seorang Kepala Komisaris, yang dikenal sebagai Tuan Hoofdcommissaris. Sebagai ucapan terima kasihnya pada Midun yang telah menyelamatkan anaknya itu, Midun langsung diberinya pekerjaan. Pekerjaan Midun sebagai seorang juru Tulis.
Setelah mendapat pekerjaan itu, Midun pun melamar Halimah. Dan mereka pun menikah di Bogor di rumah orang tua Halimah.
Prestasi kerja Midun begitu baik di mata pimpinannya. Midun kemudian diangkat menjadi Kepala Mantri Polisi di Tanjung Priok. Dia langsung ditu¬gaskan menumpas para penyeludup di Medan. Selama di Medan itu, Midun, bertemu dengan adiknya, yaitu Manjau. Manjau bercerita banyak tentang kampung halamannya. Midun begitu sedih rnendengar kabar keluarganya di kampung yang hidup menderita. Oleh karena itu ketika dia pulang ke Jakarta, Midun langsung minta ditugaskan di Kampung halamannya. Permintaan Midun itu dipenuhi oleh pimpinannya.
Kepulangan Midun ke kampung halamannya itu membuat Kacak sangat gelisah. Kacak waktu itu sudah menjadi penghulu di kampung rnereka. Kacak menjadi gelisah sebab dia takut perbuatannya yang telah menggelap¬kan kas negara itu akan terbongkar. Dan dia yakin Midun akan berhasil rnembongkar perbuatan jeleknya itu. Tidak, lama kemudian, memang Kacak ditangkap. Dia terbukti telah menggelapkan uang kas negara yang ada di desa mereka. Akibatnya Kacak masuk penjara atas perbuatannva itu.
Sedangkan Midun hidup berbahagia bersama istri dan seluruh keluarga¬nya di kampung.